Things I learned because of pandemic: Sinking Fund

10:13 AM

Image by Andreas Breitling from Pixabay

Halo! Setelah lebih dari setahun aku gak pernah menulis lagi, sekarang tiba-tiba muncul dengan topik yang seperti ini. Kebetulan saja aku ingin menulis lagi disini dan kepikiran mau sharing tentang Sinking Fund. Mungkin banyak yang sudah pernah dengar tentang hal ini. Aku sendiri baru tau tentang istilah Sinking Fund tahun ini, pada masa awal pandemi ini. Saat itu aku merasa bingung karena tiba-tiba rasanya makin kehilangan kontrol untuk hidupku sendiri. Rencana-rencana semua gak bisa dijalankan dan makin gak berani untuk membuat keputusan. Hidup itu rasanya seperti sedang di pause. Jadilah aku sering menonton video tentang finansial, aku pikir mungkin setidaknya ada satu dua hal yang bisa dilakukan dan aku bisa merasa hidupku sedikit terkendali.

Maaf, jadi curcol. Sinking Fund ini sederhananya uang yang kita simpan tapi kita sudah tau mau menggunakannya untuk apa. Bedanya dengan Emergency Fund, kalo Emergency Fund ini disimpan dan cuma boleh digunakan untuk hal-hal yang benar-benar genting. Misalnya kita perlu biaya berobat yang besar, kita gak punya asuransi dan BPJS mungkin gak cover. Sedangkan Sinking Fund itu buat pengeluaran yang akan datang atau yang dibayar tahunan. Misalnya nih, aku 'kan perlu bayar domain sebulan sekali, kalo sudah saatnya bayar, aku boleh menggunakan uang dari Sinking Fund.

Lalu, bedanya dengan tabungan biasa apa ya? Bedanya cuma jangka waktunya. Sinking Fund untuk jangka pendek dan jumlah pengeluarannya lebih kecil, sedangkan tabungan biasanya untuk jangka yang lebih lama dan jumlahnya lebih besar. Misalnya menabung untuk membeli rumah atau mobil. Aku sendiri Sinking Fund-ku aku gunakan untuk bayar domain, kalo motorku dibawa ke bengkel, untuk beli hadiah ulang tahun atau pernikahan, annual fee kartu kredit -- yang seharusnya aku gak akan bayar lagi untuk tahun selanjutnya karena aku baru tau tentang programnya kartu kredit BCA bisa gratis annual fee katanya -- dan kadang juga suka aku gunakan untuk menutupi kekurangan budget. Aku juga punya Sinking Fund yang ada kategorinya, yaitu untuk bayar asuransi tahunan. Kalo langsung mengeluarkan uang yang banyak untuk bayar 'kan berasa ya, nah kalo menggunakan Sinking Fund istilahnya kita mencicil tapi pada diri sendiri.


Image by mohamed Hassan from Pixabay

Coba aku beri contoh dengan angka. Misalnya aku perlu bayar 1.000.000 per tahun untuk sesuatu. Jadi mungkin aku akan menyisihkan 100.000 setiap bulan. Nah setahun itu 'kan 12 bulan, jadi uang yang terkumpul nanti adalah 1.200.000, yang artinya akan lebih 200.000 saat membayar yang 1.000.000 itu, bisa aku gunakan untuk hal lain atau simpan lagi untuk sebagai Sinking Fund untuk hal lain.

Contoh lainnya, mungkin ini lebih cocok untuk bayar hutang atau kita punya iuran yang kita sudah tau perlu dibayar sampai kapan. Misalnya aku perlu membayar sesuatu yang sebenarnya bulanan tapi aku sudah tau aku cuma perlu bayar sampai Desember 2021. Dari sekarang sampai bulan tersebut 15 bulan, iurannya perbulan bilang saja 1.000.000, yang totalnya berarti 15.000.000. Selain aku tetap perlu membayar yang 1.000.000 setiap bulan, aku akan menyisihkan 500.000 sebagai sinking fund untuk iuran ini. Jadi dalam bulan ke 10 aku sudah gak perlu memikirkan iuran tersebut karena aku sudah punya uang untuk melunasinya. Kenapa bulan ke 10? Di bulan ke 10 aku sudah membayar 10.000.000 dari 15.000.000 dan total di sinking fund-ku ada 5.000.000. Bulan ke 11 aku sudah bisa pakai uang sejuta yang biasa aku pakai untuk iuran tersebut untuk hal lain deh.

Lalu, sebaiknya sinking fund ini disimpan dimana ya? Menurutku sebaiknya disimpan di tempat yang sangat mudah diakses. Aku lihat banyak yang menyarankan menggunakan amplop yang dipisah-pisah sesuai tujuannya atau kaleng atau wadah gak terpakai. Kalian boleh coba itu juga, tapi untuk aku sendiri aku menaruhnya di akun Jenius. BUT, sebenarnya aku masih 50:50 untuk merekomendasikan si Jenius ini, karena koneksinya sering gak bagus. Tapi dia juga punya hal yang aku perlukan, sangat bagus untuk menabung. Sinking fund biasanya aku taruh disalah satu kartu tambahan yang aku punya (bisa diakses lewat Card Center). Jika kalian ingin mendapatkan bunga untuk sinking fund tersebut, lebih baik simpan di Flexi Saver karena sekarang kita punya 2 Flexi Saver. Mungkin satunya bisa untuk Sinking Fund untuk hal random dan satunya lagi bisa digunakan untuk yang lain.

Lastly, haruskah kalian punya Sinking Fund? You do you. Aku bukan expert, aku cuma ingin share hal ini karena aku merasa hal ini sangat berguna buat aku. Jika setelah membaca ini kalian merasa ini yang kalian cari atau cuma penasaran ingin coba, good for us(?). Tapi jika setelah membaca ini -- atau bahkan kalian gak baca sampai akhir -- kalian merasa ini sulit atau bukan untuk kalian, thank you for reading (or only clicking)! Jadi, jawabannya gak harus ya.

Aku kurang yakin apakah penjelasanku cukup simple, tapi aku harap itu bisa dimengerti.

You Might Also Like

2 comments

  1. Viniii akhirnya ngeblog lagii ^^

    Aku ga paham apapun soal urusan financial, cuma tau tiap bulan nyisihin sekian persen buat nabung aja ahaha.. Tapi ini tulisan kamu berguna banget sih.. Bener biaya-biaya tahunan kayak asuransi atau hal-hal lain kayak langganan netflix dkk kalo dikeluarin sekaligus berasa gedenya. Tapi kalo kita bisa nyicil setiap bulannya ke diri sendiri bakal kerasa lebih ringan. Thank you for sharing Vini :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya akhirnya yaa >< semoga aku bisa balik rutin lagi hahaha

      aku juga baru tau yang begini2 nih, kebetulan aku lebih banyak bayar tahunan soalnya, jadi cocok juga buat aku terapin :D Thank youu udah mampir Eya XD

      Delete

Hi! If you have any question, suggestion or just want to say hi to me, please leave it in comment box. I will definitely comment back in your blog ^^

Popular Posts